Ketika Otak Kita Kalah Cepat dari Notifikasi: Mengapa Mobile Learning Sering Gagal Sebelum Dimulai (Bagian 1)
November 29, 2025 | by Citra Kurniawan
Mari kita mulai dengan satu kenyataan yang sering kita abaikan: kita hidup dalam perang perhatian. Bukan perang besar, tetapi perang kecil yang terjadi setiap menit di dalam genggaman kita — di layar smartphone.
Di satu sisi, smartphone membuka pintu belajar yang tidak pernah ada sebelumnya. Semua materi, video, artikel, bahkan ujian bisa kita akses dalam hitungan detik. Namun di sisi lain, smartphone juga membawa serangan tanpa henti berupa notifikasi, reminder, dan update aplikasi yang selalu berhasil membuat kita “sekilas saja lihat”—yang akhirnya berubah menjadi 15 menit hilang begitu saja.
Lalu pertanyaannya:
Mengapa sebagian orang masih bisa fokus saat belajar lewat smartphone, sementara sebagian lain langsung terseret arus distraksi?
Jawabannya ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar “karena banyak notifikasi.”
1. Smartphone Bukan Alat Biasa — Ia Mesin Pencuri Perhatian yang Dirancang untuk Menang
Kita sering membanggakan diri bisa multitasking. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa bukan kita yang multitasking, tetapi otak kita yang cepat berpindah secara terpaksa.
Dan setiap perpindahan itu menghabiskan energi berpikir.
Notifikasi aplikasi menjadi pelaku utama.
Tidak peduli seberapa fokus kita, sebuah pop-up kecil saja sudah cukup untuk mengalihkan sebagian kapasitas otak.
Perancang aplikasi tahu hal ini — mereka merancang alert yang memicu rasa penasaran, bahkan kecemasan ringan:
“Ada yang ngechat.”
“Ada promo baru.”
“Ada update penting.”
Kita tidak sedang hanya menghadapi distraksi kecil.
Kita sedang menghadapi teknologi yang memang dirancang untuk memenangi perhatian kita.
RELATED POSTS
View all