citrakurniawan.com

Ketika Otak Kita Kalah Cepat dari Notifikasi: Mengapa Mobile Learning Sering Gagal Sebelum Dimulai (Bagian 2)

November 29, 2025 | by Citra Kurniawan

image
Mobile Learning Tidak Gagal Karena Kontennya — Tapi Karena Otak Kita Tidak Siap Bertarung

Pengguna mobile memiliki pola belajar yang sangat khas:

1. Sukanya baca cepat (skim),
2. Fokus singkat,
3. Mudah terganggu,
4. Sering mengakses sambil bergerak,
5. dan jarang menyelesaikan modul panjang.

Bayangkan ini terjadi pada peserta didik yang self system-nya belum kuat.
Dalam Taksonomi Marzano, self system adalah sistem yang membantu seseorang:

1. Menentukan apa yang penting,
2. Menetapkan tujuan,
3. Mengendalikan impuls,
4. dan memutuskan untuk tetap fokus meski ada gangguan.

Jika fondasi ini belum terbentuk, maka smartphone bukan lagi alat belajar.
Ia menjadi magnet distraksi berdaya tinggi.

Contoh paling sederhana:
Siswa yang mudah penasaran akan sangat sulit mengabaikan notifikasi WhatsApp meski sedang membaca modul penting. Siswa yang tidak punya tujuan belajar jelas akan mudah “pindah aplikasi” hanya karena bosan sedikit. Siswa yang impulsif akan membuka Instagram dulu “sekali saja”—yang akhirnya berubah menjadi 20 menit.

Distraksi Mobile Tidak Hanya Mengganggu — Ia Menghapus Kedalaman Belajar
Ada dua jenis belajar:
1. Belajar mengenal bisa dilakukan sambil lalu: membaca cepat, melihat definisi.
2. Belajar memahami membutuhkan fokus stabil: refleksi, analisis, pemikiran mendalam.

Mobile learning sering terjebak di level pertama, bukan karena materinya buruk, tetapi karena:
1. otak terus terpotong oleh notifikasi,
2. pikiran sibuk berpindah antara satu aplikasi ke aplikasi lain,
3. dan siswa tidak pernah masuk ke tahap “deep learning”.

Mobile learning sering gagal bukan karena desainnya, tetapi karena kondisi pikirannya tidak pernah sampai pada level kedalaman

RELATED POSTS

View all

view all