citrakurniawan.com

Bukan Cuma Karena Notifikasi, tapi Karena Self System Kita Belum Kuat (MD Bagian 2)

November 29, 2025 | by Citra Kurniawan

image
Belajar lewat smartphone kini sudah jadi hal yang lumrah. Kita membaca materi kuliah lewat aplikasi, menonton video pembelajaran di YouTube, hingga ikut kelas daring lewat platform tertentu. Semuanya terasa mudah dan praktis. Namun, di balik kemudahan itu, banyak peserta didik justru merasa makin sulit fokus. Baru membaca beberapa baris materi, tiba-tiba muncul notifikasi dari WhatsApp. Baru mulai menonton video pembelajaran, muncul reminder dari aplikasi lain. Dan tanpa sadar, proses belajar pun terhenti begitu saja.
Inilah yang disebut mobile learning distraction: gangguan yang muncul saat belajar menggunakan perangkat mobile. Yang menarik, distraksi ini bukan hanya soal notifikasi yang muncul tiba-tiba. Ada faktor lain yang jauh lebih dalam, yaitu kemampuan seseorang dalam mengelola dirinya—yang dalam Taksonomi Marzano disebut sebagai self system.
________________________________________
Self System: Fondasi yang Menentukan Apakah Kita Bisa Fokus atau Tidak
Dalam Taksonomi Marzano, self system adalah level paling dasar namun paling penting. Di sinilah seseorang menentukan:
• apakah ia merasa tugas itu penting,
• seberapa kuat motivasi belajarnya,
• apakah ia bisa menunda godaan,
• bagaimana ia mengontrol impuls,
• bagaimana ia mempertahankan fokus.
Peserta didik yang memiliki self system kuat mampu memutuskan bahwa belajar adalah prioritas, sehingga distraksi digital tidak mudah mengganggu. Saat notifikasi muncul, mereka bisa mengabaikannya dan kembali fokus pada materi.
Sebaliknya, peserta didik dengan self system lemah sering merasa sulit untuk berkata:
"Nanti saja buka pesan, sekarang belajar dulu."
Mereka lebih mudah penasaran, cenderung impulsif, dan cepat beralih ke hal lain. Akibatnya, proses belajar sering terpotong dan tidak pernah benar-benar mendalam.
________________________________________
Smartphone: Alat Belajar yang Juga Merangkap Mesin Pencuri Fokus
Masalahnya, smartphone memang diciptakan untuk membuat penggunanya terus kembali. Setiap notifikasi, suara, atau getaran dirancang untuk memunculkan rasa ingin tahu. Dan bagi peserta didik yang self system-nya belum kuat, godaan ini terasa jauh lebih berat.
Ketika belajar menggunakan smartphone, pikiran harus bekerja pada dua level:
1. Mencerna materi pembelajaran.
2. Menghadapi distraksi yang terus datang dari aplikasi lain.
Jika self system tidak mampu mengatur prioritas dan menahan dorongan untuk mengecek notifikasi, maka fokus belajar akan mudah pecah. Bahkan sekadar melihat notifikasi lewat pandangan sekilas sudah cukup untuk mengganggu alur berpikir dan menurunkan kemampuan memahami materi.
________________________________________
Belajar Sambil Bergerak? Beban Kognitif Semakin Berat
Banyak peserta didik belajar sambil bergerak—di perjalanan, menunggu kendaraan, atau berpindah ruang. Pada kondisi ini, otak sudah terbagi antara menjaga keselamatan, memperhatikan sekitar, dan membaca materi.
Ketika distraksi digital masuk, kondisi menjadi jauh lebih rumit.
Self system yang lemah akan membuat peserta didik:
• mudah berhenti belajar,
• cepat berpindah aplikasi,
• sulit memahami informasi,
• bahkan lupa apa yang dibaca beberapa detik sebelumnya.
Belajar menjadi terasa “macet” dan tidak efisien.
________________________________________
Mobile Learning Bukan Soal Teknologi, tapi Soal Kemampuan Mengelola Diri
Inilah ironi mobile learning: perangkatnya canggih, aksesnya mudah, informasinya lengkap, tetapi hasil belajar tidak selalu meningkat. Mengapa? Karena mobile learning menuntut hal yang tidak dimiliki setiap peserta didik, yaitu kemampuan:
• menjaga fokus,
• mengatur tujuan,
• menolak godaan digital,
• dan mengelola atensi.
Semua ini kembali ke self system.
Tanpa fondasi ini, smartphone akan selalu lebih kuat dalam mengalihkan perhatian daripada materi yang sedang dipelajari.
________________________________________
Kesimpulan: Mobile Learning Menuntut Self System yang Tangguh
Pembelajaran berbasis mobile bukan sekadar memilih aplikasi terbaik atau menyediakan materi digital. Ia menguji kemampuan paling dasar seseorang: apakah ia mampu mengatur dirinya sendiri?
Peserta didik dengan self system yang kuat dapat memanfaatkan smartphone sebagai alat belajar yang luar biasa efektif. Tetapi bagi mereka yang self system-nya lemah, smartphone menjadi sumber gangguan yang membuat belajar terasa terputus-putus dan sulit mendalam.
Karena itu, sebelum berbicara tentang aplikasi belajar yang keren, kita perlu lebih dulu membangun kemampuan peserta didik untuk:
• mengelola diri,
• menguatkan motivasi internal,
• menata prioritas,
• dan menjaga fokus.
Karena di era smartphone, bukan teknologinya yang menentukan keberhasilan belajar—tetapi seberapa kuat seseorang mampu mengelola dirinya di tengah godaan digital yang tidak pernah berhenti.

RELATED POSTS

View all

view all