citrakurniawan.com

Desain Pesan [2]: Model Komunikasi Shannon–Weaver: Fondasi Teori Informasi & Komunikasi nonverbal

February 5, 2026 | by Citra Kurniawan

pngtree-messages-icon-design-vector-png-image_1734730

Model Komunikasi Shannon–Weaver yang dikembangkan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1948–1949 merupakan fondasi penting dalam teori informasi modern. Model ini memandang komunikasi sebagai proses linier, yaitu aliran pesan dari sumber menuju tujuan melalui serangkaian tahapan: sumber informasi, encoder (pengubah pesan menjadi sinyal), saluran (media penghantar), decoder (penerjemah sinyal kembali menjadi pesan), dan tujuan akhir. Dalam proses tersebut, terdapat elemen krusial yang disebut noise atau gangguan—baik fisik, teknis, maupun semantik—yang dapat mengurangi keakuratan pesan. Awalnya, model ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi komunikasi telepon dan radio, tetapi pengaruhnya meluas hingga menjadi dasar pengembangan sistem telekomunikasi, jaringan digital, kompresi data, dan berbagai protokol komunikasi saat ini.

Secara praktis, model ini mudah dipahami melalui contoh komunikasi telepon: suara pembicara (sumber) diubah mikrofon (encoder) menjadi sinyal listrik, dikirim melalui kabel atau gelombang radio (saluran), lalu diterjemahkan kembali oleh speaker (decoder) sehingga dapat didengar penerima (tujuan). Gangguan seperti sinyal lemah atau suara statis menunjukkan bagaimana noise dapat memengaruhi kualitas komunikasi. Kelebihan model ini terletak pada kesederhanaannya dan kemampuannya menjelaskan aspek teknis komunikasi secara sistematis. Namun, karena tidak memasukkan unsur umpan balik, konteks sosial, atau dinamika hubungan interpersonal, model ini perlu dipadukan dengan pendekatan lain untuk memahami komunikasi manusia yang lebih kompleks.

Menariknya, pembahasan model ini juga berkaitan dengan komunikasi nonverbal, yakni semua bentuk penyampaian pesan selain kata-kata tertulis atau terucap. Komunikasi nonverbal mencakup gerak tubuh (kinestik), jarak fisik (proksemik), unsur vokal seperti intonasi (paralanguage), sentuhan (haptics), ekspresi mata (oculestics), hingga tampilan fisik dan aroma (olfatics). Bahkan kebisuan pun dapat menjadi pesan yang bermakna—menunjukkan persetujuan, kebingungan, atau penolakan. Dengan memahami baik aspek teknis komunikasi ala Shannon–Weaver maupun dimensi nonverbalnya, kita dapat melihat bahwa komunikasi bukan sekadar pengiriman pesan, tetapi proses kompleks yang rentan gangguan dan sangat dipengaruhi oleh cara pesan itu dikemas dan disampaikan.

RELATED POSTS

View all

view all