SOSMED VS Online wellness – Online distraction
December 26, 2025 | by Citra Kurniawan

Di tengah kehidupan digital yang semakin intens, pembahasan tentang social media balancing tidak bisa dilepaskan dari dua konsep kunci yang saling bertautan: online wellness dan online distraction. Media sosial hari ini bukan hanya ruang interaksi, tetapi juga ekosistem atensi yang terus bersaing memperebutkan fokus kita. Cara kita menavigasi ruang digital inilah yang pada akhirnya menentukan apakah media sosial berkontribusi pada kesejahteraan daring (online wellness) atau justru memperbesar distraksi digital (online distraction).
Online wellness merujuk pada kondisi seimbang di mana aktivitas daring mendukung kesehatan mental, emosional, dan sosial individu. Dalam konteks ini, media sosial berpotensi menjadi sumber dukungan sosial, ruang berbagi pengalaman, sarana belajar, dan medium ekspresi diri yang sehat. Namun, potensi positif ini hanya muncul ketika penggunaan media sosial dilakukan secara sadar, terarah, dan sesuai kebutuhan. Di sinilah konsep social media balancing berperan sebagai fondasi online wellness—menekankan keseimbangan antara keterhubungan dan jeda, antara konsumsi konten dan refleksi diri, serta antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.
Sebaliknya, ketika keseimbangan ini tidak tercapai, media sosial dengan mudah berubah menjadi sumber online distraction. Distraksi digital tidak selalu hadir dalam bentuk gangguan besar; sering kali ia muncul secara halus melalui kebiasaan scrolling tanpa tujuan, notifikasi yang terus-menerus, atau dorongan untuk selalu “mengecek sesuatu” meski tidak ada kebutuhan nyata. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa desain platform—seperti infinite scroll dan algoritma personalisasi—secara tidak langsung mendorong kondisi mindless engagement, di mana pengguna kehilangan kesadaran waktu dan tujuan saat berinteraksi dengan konten digital.
Kondisi inilah yang membuat online distraction menjadi ancaman serius bagi online wellness. Distraksi yang berulang dapat mengganggu konsentrasi, menurunkan kualitas belajar dan bekerja, memicu kelelahan kognitif, serta memperburuk kecemasan dan stres. Dalam jangka panjang, pengguna bisa merasa “selalu sibuk secara digital” namun miskin pengalaman bermakna. Ironisnya, media sosial yang awalnya digunakan untuk mengisi waktu luang justru mencuri ruang istirahat mental yang dibutuhkan otak.
Menariknya, kajian di bidang Human-Computer Interaction menawarkan sudut pandang baru bahwa solusi tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada individu. Konsep design friction menunjukkan bahwa dengan menambahkan jeda atau hambatan kecil dalam desain antarmuka—misalnya pengingat waktu penggunaan atau transisi konten yang tidak instan—pengguna terdorong untuk lebih reflektif. Pendekatan ini membantu mengurangi online distraction sekaligus mendukung online wellness, karena pengguna kembali memegang kendali atas perhatian dan keputusan digitalnya.
Pada kelompok remaja dan pelajar, keterkaitan antara social media balancing, online wellness, dan online distraction menjadi semakin kompleks. Media sosial dapat mendukung pembentukan identitas dan relasi sosial, tetapi juga menjadi sumber tekanan, perbandingan sosial, dan distraksi belajar. Tanpa pendampingan literasi digital yang memadai, remaja berisiko terjebak dalam pola penggunaan yang melemahkan kesejahteraan daring mereka. Oleh karena itu, keseimbangan tidak cukup diatur melalui larangan atau pembatasan waktu semata, melainkan melalui pembelajaran reflektif tentang tujuan, dampak, dan makna aktivitas daring.
Pada akhirnya, social media balancing dapat dipahami sebagai jembatan antara online wellness dan online distraction. Ia membantu kita mengenali batas tipis antara penggunaan yang menyehatkan dan penggunaan yang melelahkan. Dengan kesadaran diri, regulasi atensi, serta dukungan desain teknologi yang etis dan edukatif, media sosial dapat diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan daring, bukan memperparah distraksi digital.
Sumber:
https://www.igi-global.com/dictionary/social-media-balancing/56013
https://oceanshealthcare.com/social-media-finding-the-right-balance/
https://arxiv.org/abs/2407.18803
https://dl.acm.org/doi/10.1145/3670653.3677495
https://link.springer.com/article/10.1186/s13034-025-00951-z
RELATED POSTS
View all